kritik tentang moral anak zaman sekarang


Fenomena Guru Mengajak Murid Membuatatau menonton Konten TikTok Vulgar: Krisis Moral dalam Dunia Pendidikan


Di era digital saat ini, media sosial seperti TikTok telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Namun, muncul fenomena yang cukup memprihatinkan, yaitu adanya oknum guru yang justru mengajak muridnya untuk membuat konten TikTok yang bersifat vulgar. Fenomena ini bukan sekedar tren yang “kebablasan”, namun sudah menjadi tanda adanya krisis nilai dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Jika dilihat dari sudut pandang budaya, tindakan tersebut mencerminkan nilai yang cukup serius. Budaya ketimuran yang menjunjung tinggi kesopanan dan etika perlahan mulai diminati oleh budaya instan yang mengutamakan popularitas dan hiburan semata. Guru yang seharusnya menjadi penjaga justru ikut hanyut dalam arus budaya yang dangkal. Ironisnya lagi, mereka tidak hanya mempengaruhi, tetapi juga menyeret murid ke dalam budaya yang tidak mendidik. Ini bukan lagi sekadar mengikuti tren, tetapi sudah masuk pada tahap kehilangan arah dan identitas budaya.

Dari sisi sosial, tindakan ini berpotensi merusak tatanan hubungan antara guru dan murid. Guru seharusnya menjadi figur yang dihormati, menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Namun, ketika guru justru mengajak muridnya melakukan hal yang tidak pantas, maka wibawa dan kepercayaan itu runtuh dengan sendirinya. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan kehilangan sosok panutan. Lebih parahnya lagi, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap institusi pendidikan itu sendiri. Ini adalah lahirnya waktu sosial yang jika tidak segera disadari, akan berdampak luas.

Secara psikologis, dampaknya juga tidak bisa dianggap remeh. Murid, terutama yang masih dalam tahap perkembangan, sangat mudah meniru apa yang dilakukan oleh gurunya. Ketika diajak mereka membuat konten vulgar, secara tidak langsung mereka mengajarkan bahwa perhatian dan pengakuan bisa didapat dengan cara yang tidak sehat. Hal ini dapat membentuk pola pikir yang keliru, seperti mencari validasi dari hal-hal yang bersifat sensasional, bukan dari prestasi atau akhlak. Guru yang melakukan hal ini sebenarnya sedang merusak perkembangan mental murid secara perlahan, meskipun mungkin mereka tidak menyadarinya.

Dari perspektif agama, tindakan ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam Islam, seorang guru memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan membimbing murid ke arah kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Jika seorang guru justru mengarahkan muridnya pada hal yang tidak baik, maka ia tidak hanya gagal dalam menjalankan amanah, tetapi juga harus siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan dan akhlak. Konten vulgar jelas bertentangan dengan prinsip menjaga aurat, kesopanan, dan martabat manusia. Oleh karena itu, tindakan tersebut bukan hanya kesalahan sosial, tetapi juga pelanggaran terhadap nilai-nilai agama.

Perlu dikatakan dengan jujur, fenomena ini adalah bentuk kegagalan sebagian pendidik dalam memahaminya. Guru bukanlah entertainer yang mencari popularitas, apalagi dengan cara murahan. Jika seorang guru rela memberikan nilai demi konten, maka yang hilang bukan hanya wibawa, tetapi juga harga diri sebagai pendidik. Pendidikan bukan tempat mencari sensasi, melainkan tempat membangun generasi yang berakhlak dan berilmu.

Sebagai penutup, fenomena ini harus menjadi bahan refleksi bersama. Dunia pendidikan tidak boleh dibiarkan terseret arus media sosial tanpa batas. Guru harus kembali pada jati dirinya sebagai pendidik, bukan pembuat konten yang kehilangan arah. Jika tidak, maka kita sedang menyaksikan bagaimana pendidikan perlahan kehilangan maknanya.

Sudah saatnya kita bertanya dengan tegas: apakah kita ingin generasi yang cerdas dan berakhlak, atau generasi yang hanya fokus mencari perhatian di layar?


Comments

Popular posts from this blog

Tri Anjani santia

Tantangan pembelajaran berbasis teknologi

Biodata diriku🤗